Ilustrasi Bilal bin Rabbah mengumandangkan adzan dalam kisah sahabat bilal bin rabbah

Kisah Bilal bin Rabbah

Terungkap kisah yang mengharukan tentang Bilal bin Rabbah, muadzin terkemuka dari Rasulullah Muhammad SAW. Cerita yang menyentuh ini menggambarkan emosi yang mendalam dan kerinduan yang dirasakan Bilal setelah kepergian Rasulullah. Perjuangan Bilal untuk mengatasi kesedihannya dan mencari ketenangan menjadi bab yang mengharukan dalam sejarah Islam

Kepergian Rasulullah SAW, Kepergian Bilal bin Rabbah Ra

“Ya Rasul, Apakah sudah waktunya untuk Iqomat?” tanya Bilal kepada Rasulullah. Rasulullah mengangguk. Kemudian Bilal pun Iqomat. Dan kemudian Rasulullah pun memimpin sholat berjamaah.

Tapi suatu hari kebiasaan bilal adzan dan Iqomat hanyalah menjadi kenangan. Kenangan yang membangkitkan kesedihan. Sejak Rasulullah pergi, Bilal tak pernah adzan lagi. Bilal sudah mencobanya tapi tak bisa. Mulutnya tercekat, suaranya hilang ketika tiba di kata “Muhammad”

Tak tahan dengan segala kenangan. Bilal pun pergi meninggalkan Madinah. Mungkin begitulah cara mengobati kesedihan. Karena bukan kehilangan yang berat tapi kenangan.

Lama Bilal pergi. Hingga kepemimpinan berganti. Dari Abu Bakar ke Umar. Umar rindu dengan adzan Bilal. Umar pun menemui Bilal yang kini telah tinggal di Syam.

Permintaan Sang Khalifah Umar Ra.

Umar merayu Bilal agar kembali lagi dan adzan lagi. Mata pria berkulit hitam, legam dan kekar itu berkaca-kaca. Air mata deras menetes di pipinya. Dengan suara lirih dia berkata, “Aku tak bisa, Umar. Aku tak akan mampu melakukannya lagi.”

Khalifah Umar Ra menyampaikan bahwa penduduk Madinah merindukan Bilal. Mereka ingin sekali mendengarkan adzan Bilal. Sekali lagi Bilal berkata lirih, “Aku tak akan sanggup Umar.” Air mata kian deras mengalir di pipinya. Sesekali, Bilal memejamkan mata. Dia tarik napasnya dalam-dalam.

“Tapi, muslim di Madinah sedang membutuhkanmu, Bilal. Mereka ingin mendengarkanmu mengumandangkan adzan. Mereka rindu suaramu, rindu lantunan adzanmu, wahai muadzin Rasulullah!” kata Umar memohon.

Mata Bilal kian berkaca-kaca. Dia menangkap harapan Umar yang begitu besar agar dia mau mengumandangkan adzan lagi di Madinah. Apalagi Umar sampai menempuh jarak yang begitu jauh dari Madinah ke Syam. Namun, berat bagi Bilal. Dia tak sanggup menanggung rindu teramat dalam jika mengingat Madinah dan mengumandangkan adzan.

Bilal tak mampu menanggung rasa rindu terhadap Rasulullah yang teramat berat. Rindu itu berat. Ya sangat berat bagi Bilal. Umar pulang dengan tangan hampa.

Kehadiran Rasulullah dalam Mimpi Sang Muadzin

Bilal tetap tak mau pulang ke Madinah. Malam hari dalam tidurnya Bilal mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah SAW menyapa Bilal, “Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?”.

Bilal pun terbangun, tanpa berpikir panjang ia segera mempersiapkan perjalanan ke Madinah. Sambil merasakan kerinduan yang teramat dalam dan besar, Bilal pergi untuk menziarahi makam Rasulullah SAW. Di Raudhah, Bilal tak mampu lagi menahan haru. Dia menangis, rindu pada Rasulullah SAW, Lelaki yang telah meninggikan derajatnya.

Saat itulah datang dua pemuda yang mulai beranjak dewasa menemui Bilal bin Rabbah, yang matanya sembab karena tangis. Mereka berdua adalah cucu kesayangan Rasulullah, yakni Hasan dan Husein. Bilal yang semakin termakan usia, mencoba memeluk kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW tersebut.

Dan Husein berkata kepada Bilal, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek.” “Baiklah, aku akan melakukannya” Jawab Bilal. Bagaimana mungkin Bilal akan menolak permintaan cucu kesayangannya Rasulullah SAW .

Ilustrasi Bilal bin Rabbah mengumandangkan adzan dalam kisah sahabat bilal bin rabbah
Ilustrasi Bilal bin Rabbah mengumandangkan adzan
(pic: oase.com)

Adzan terakhir dari Bilal bin Rabbah

Tatkala waktu sholat tiba, Bilal naik ke tempat dahulu ia terbiasa mengumandangkan adzan pada masa Rasulullah SAW masih hidup. Ia mengambil nafas dalam-dalam, kemudian suara merdunya yang sangat khas itu terdengar kembali. Dihempas oleh angin padang pasir ke seluruh penduduk Madinah.

Ketika lafadz “Allahu Akbar…” dikumandangkan oleh Bilal, mendadak seluruh Madinah senyap. Segala kegiatan terhenti. Semua orang terkejut. Suara yang telah bertahun-tahun hilang, dan begitu dirindukan itu telah kembali, yang mengingatkan pada sosok Rasulullah SAW nan agung.

Suara lantang sang “Muadzin Rasul” menggema ke semua penjuru kota. Seketika orang-orang yang mendengar lantunan adzan itu terdiam. Mereka terhenyak, serasa kembali ke masa Rasulullah. Dan bertanya “Apakah Rasulullah kembali?”

Saat Bilal mengumandangkan lafadz “Asyhadu anlaa ilaha illallah,” seluruh warga Madinah berlarian ke arah sumber suara itu, sambil berteriak histeris.

Sewaktu Bilal sampai pada lafadz “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…” Suaranya yang menggema menjadi terdengar parau. Dadanya bergetar, dan hatinya bergemuruh penuh kerinduan.

Bilal terisak menyebutkan nama orang yang paling dirindukannya. Air matanya mengalir begitu saja, sambil terlintas sebuah kenangan dalam ingatan Bilal, yang teringat sosok Rasulullah SAW. Semua ingatan itu, membuat Bilal tak sanggup melanjutkan adzan pada lantunan lafadz tersebut.

Di atas menara Nabawi, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Suasana itu kemudian membuat seantero Madinah pecah oleh tangisan. Sang Khalifah Umar bin Khattab, menangis paling keras di antara yang lain. Mereka semua menangis, teringat masa-masa indah ketika Rasulullah masih ada bersama mereka.

Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad…. 😭

Mari bergabung dalam komunitas pencinta pencinta siroh nabawi. Karena akan ada banyak kisah Siroh Nabi Muhammad ﷺ , para sahabat dan sahabiyah dan para Ulama yang dapat kita ambil hikmahnya.

Scroll to Top